Batik Ganasan Khas Subang

Tahun 2009 lalu ketika batik dikukuhkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia, industri batik kembali booming, termasuk di daerah-daerah yang sebelumnya tak mengenal budaya membatik seperti Subang. Sejak saat itu, mulai banyak warga Subang mencari-cari batik dengan motif khas daerah Subang. Warga mulai sadar bahwa batik bukan sekedar fashion tetapi juga menjadi indentitas kebanggaan suatu daerah. Namun hingga saat ini hanya ada beberapa warga Subang saja yang terjun langsung menjadi pengrajin batik.

Melihat peluang tersebut, pada tahun 2010, Mulyana (pemilik Batik Ganasan) mulai mencoba merintis pembuatan batik Subang. Awalnya, ia memperoleh beasiswa dari salah satu bank nasional di kampusnya untuk pengembangan kewirausahaan, saat itu ia berfikir untuk mengembangkan batik Subang. Dirinya kemudian mengikuti program pelatihan pembuatan batik dan sempat keliling Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk observasi mengenai batik. Dari sana kemudian ia memutuskan untuk mengembangkan batik Subang.4 copy

Tahun 2011 Mulyana mulai mengikuti pameran di depan gedung Bank Indonesia, Bandung. Saat itu ia hanya memamerkan beberapa helai batik hasil karyanya. Dari sana, kemudian ia mulai dikenal. Ketika istri wakil gubernur Jawa Barat sekaligus juga ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Dede Yusuf berkunjung ke Subang ia sempat diberi bantuan peralatan membatik.

Dari situ kemudian Mulyana beberapa kali didaulat untuk mengadakan pelatihan membatik bersama beberapa instansi di beberapa tempat seperti di Cibogo, Cipunagara, Lanud Suryadarma dan Kampung adat Banceuy. Namun sayang, dari beberapa pelatihan tersebut hanya satu dua orang saja yang kemudian tertarik meneruskan membuat batik.

Ia kemudian terus belajar membuat batik dengan ciri khas dan karakternya. Meskipun latar belakang pendidikannya desain grafis, menurutnya belajar membuat batik sama sekali berbeda, sehingga ia harus belajar dari nol tentang batik. Mulyana beberapa kali berkonsultasi dengan ahli batik mengenai batik hasil karyanya.

Menurutnya karakter batik suatu daerah bisa dilihat dari motif dan warnanya. Batik-batik pesisir biasanya berwarna lebih terang berbeda dengan batik daerah pedataran dan pegunungan yang cenderung gelap. Dan daerah-daerah yang sudah lama mengembangkan batik biasanya motifnya terlihat klasik. Mengenai hal ini Mulyana cenderung mengikuti selera pasar. Ia membuat batik yang variatif mulai dari yang “ngejreng” hingga yang cenderung berwarna “gelap”.
Kini dirinya telah memiliki workshop sekaligus galery yang memamerkan batik hasil karyanya di Binong. Workshop tersebut menjadi tempat edukasi mengenai batik di Subang. Apalagi saat ini menurut Mulyana pemahaman masyarakat terhadap batik masih kurang.

Tinggalkan Balasan